Opini - Buru Fakta News - Apa sesungguhnya jati diri media massa? Jika kita kembali pada prinsip dasar atau elemen jurnalisme, jawabannya sangat jelas. Media harus kembali pada hakikatnya sebagai pelayan publik (public service), bukan menjadi alat kekuasaan maupun komoditas semata.
Ada beberapa pilar utama yang seharusnya menjadi fondasi, namun kini sering kali terlupakan:
1. Loyalitas pada Publik, Bukan pada Kuasa dan Duit
Jati diri media yang sejati adalah mengabdi pada masyarakat luas, bukan menjadi corong pejabat, budak klik, atau sekadar menjual framing sesuai pesanan. Tugas utamanya tunggal dan mutlak: mencari dan menyajikan kebenaran demi kepentingan publik.
2. Kedisiplinan dalam Verifikasi
Di era digital, banyak media yang terjebak mengejar kecepatan (speed) dan popularitas (viral). Judul dibuat clickbait, berita asal copy-paste, dan isu digoreng tanpa proses klarifikasi. Padahal, jati diri media yang benar adalah "saring dulu, baru sebarkan", bukan sebaliknya. Akurasi harus selalu menang melawan kecepatan.
3. Menjadi Pengawas, Bukan Anjing Peliharaan
Media harus berperan sebagai watchdog yang kritis, bukan poodle yang manis-manis hanya demi mencari keuntungan pribadi. Tugasnya mengawasi yang berkuasa, berani menulis jika ada kesalahan, dan tidak duduk diam hanya demi mengharapkan amplop atau fasilitas di acara-acara resmi.
4. Menyediakan Ruang Beragam, Bukan Ruang Gema
Media harus menjadi forum yang menampung beragam suara, bukan sekadar ruang gema (echo chamber) yang hanya mengulang narasi satu kubu saja. Jika isi pemberitaan hanya berpihak pada pihak yang mampu membayar atau memiliki kekuasaan, maka media tersebut telah mengkhianati prinsip kemerdekaan pers.
Mengapa Media Kehilangan Jati Diri?
Kenyataannya, tidak sedikit media yang kini kehilangan arah. Ada beberapa faktor penyebabnya:
Pertama, krisis bisnis. Pendapatan dari iklan banyak yang beralih ke platform digital raksasa seperti TikTok dan Meta. Akibatnya, banyak media yang terpaksa mengejar trafik semata, menjual sensasi, hingga menerima "berita titipan" demi bertahan hidup.
Kedua, aturan algoritma. Sistem saat ini sering kali membuat konten yang "ramai" yang menang. Berita berat soal kebijakan negara atau APBN sering kali kalah pamor dibandingkan gosip artis. Ini mendorong redaksi untuk menurunkan standar kualitas demi memenuhi selera pasar sesaat.
Ketiga, tekanan kepemilikan dan politik. Banyak media yang dimiliki oleh tokoh partai atau pengusaha tertentu. Kondisi ini membuat independensi menjadi sangat sulit dipertahankan, karena berita sering kali diarahkan sesuai kepentingan pemodal.
Apa Makna "Kembali ke Jati Diri"?
Mengembalikan jati diri media bukan sekadar wacana, melainkan butuh tindakan nyata:
1. Keberanian menolak uang haram, baik itu berupa permintaan pemberitaan palsu maupun advertorial yang menyamar menjadi berita keras.
2. Berinvestasi pada redaksi, dengan memberikan kesejahteraan yang layak kepada wartawan agar mereka tidak mudah tergoda atau tertekan.
3. Mengutamakan kedalaman daripada kecepatan. Terlambat lima menit tidak masalah, asalkan berita benar dan valid, daripada menjadi yang pertama tapi menyebarkan hoaks.
4. Ingat siapa yang membayar. Gaji wartawan dan operasional media sebenarnya dibayar oleh kepercayaan publik/pembaca, bukan oleh pejabat atau pengiklan. Jika publik hilang kepercayaan, media itu perlahan akan mati.
Namun, tugas ini bukan hanya di pundak awak media. Publik pun memiliki tantangan sendiri: Apakah masyarakat masih mau menghargai dan mendukung karya jurnalistik yang berkualitas, atau justru maunya gratisan tapi terus mengeluh isi berita yang sampah?
Media tanpa jati diri pada hakikatnya tidak lebih dari sekadar selebgram yang berkantor. Tidak memiliki wibawa, dan tidak memiliki fungsi yang berarti bagi bangsa.
Lantas, menurut Anda, media mana saja yang saat ini masih konsisten memegang teguh prinsip dan jati dirinya?(Red)